Archive for » 2010 «

Murnikan Hati dan Pikiranmu

Kebahagiaanmu adalah surga dan kesengsaraanmu adalah neraka. Konsep mengenai neraka dan surga diperkenalkan dengan tujuan untuk melihat apakah engkau hanya melakukan perbuatan yang baik. Surga dan neraka tidaklah terpisah; ia ada didalam pikiranmu. apakah penyebap dari kesengsaraan? adalah pikiran yang menyebabkan kesengsaraan. adalah pikiran yang penuh dengan keinginanan. adalah pikiran yang menciptakan surga atau neraka. Murnikan pikiranmu, perkataan dan perbuatanmu serta hatimu. Dan dengan itu engkau akan merasakan surga itu sendiri. Surga yang sesungguhnya berada dalam dirimu.

“Be Like Jesus” In Words Of Sri Satya Sai Baba – Halaman 79 (Edisi Bahasa Inggris)

Category: Artikel  Tags:  Comments off

HIS LOVE, HIS GRACE (CINTA-NYA, RAHMAT-NYA)

Suatu ketika, ada beberapa murid Svami (Svami student) berkata kepada Svami : “Oh Svami, kami sungguh sangat Bahagia! Kami tahu bahwa ini adalah hasil dari purva janma sanskarams-perbuatan baik yang telah kami lakukan pada kehidupan kami sebelumnya dan para leluhur kami yang pada akhirnya mengantarkan kami kehadapanMu Svami.”
Svami mendengarkan semua perkataan tersebut dan kemudian pernyataan ini diikuti oleh orang-orang yang lebih tua yang juga hadir disitu, dan sekarang semua orang berkata, “Svami, kami sesungguhnya tidak melakukan apapun dikehidupan kami saat ini yang pantas kami persembahkan kepadaMu sehingga dapat memuaskanMu Svami!”.

Kemudian, Svami berkata : “Tahukah kalian para pertapa (orang suci) yang duduk di pegunungan Himalaya sana? Beberapa diantaranya sudah melakukan meditasi lebih dari 1000 tahun lamanya! Dan ketika Aku muncul dihadapannya, itu hanya untuk sesaat – terkadang kurang dari 2 menit! Apa yang telah engkau atau keluargamu atau garis keturunanmu lakukan untuk mendapatkan – lupakan 2 menit – tapi hampir semua dari kalian dengan sangat mudah bersama Aku selama berjam-jam lamanya setiap hari! Dan pada hari-hari berikutnya!

Sekarang kami terkaget! Kami yakin bahwa tidak ada apapun yang masing-masing dari kami telah lakukan (sehingga layak mendapatkan Svami) Kemudian Svami berkata : “Ini merupakan keberuntungan kalian bahwa kalian terlahir bersamaan dengan masa dimana Avatar memutuskan untuk turun, merupakan kebaikanmu yang menarikmu kearahKu. Tapi itu berkontribusi (menyumbang) hanya sedikit. Ini semua murni atas RahmatKu sehingga masing-masing jiwa kalian datang menuju Aku! Tidak satupun diantara kalian yang sekarang ada didepanKu pantas bahkan hanya untuk sedetik bersama Svami! Tidak ada satupun diantara kalian yang pantas! Apa yang Aku berikan kepada kalian adalah 1.000.000.000 (SATU MILYAR) kali lebihnya dari apa yang masing-masing dari kalian pantas tuk dapatkan!”.

Dan tentu, Kemudian Svami “tampak” sedikit sedih dan berkata : “Dan tidak ada seorangpun diantara kalian berusaha agar pantas mendapatkan rahmatKu bahkan hanya untuk yang kesemilyar (rahmat yang paling akhir dari 1.000.000.000 (satu milyar) rahmat yang Svami telah berikan)!”.

(Cerita dari Mr. Indreshwar (alumnus Svami college) dapat dibaca english versionnya di http://media.radiosai.org/Journals/Vol_08/01JUL10/05-h2h_special-04.htm)

Category: Story  Comments off

PETUNJUK BAGI PEKERJA AKTIF DALAM ORGANISASI SRI SATHYA SAI SEVA


SAI CENTER DAN SAMITHIS (ORGANISASI)

A. MAKSUD DAN TUJUAN
P : Apakah tujuan dari sebuah Sai Center?
J : Engkau harus memiliki kepercayaan yang mantap bahwa tujuan dari Organisasi ini adalah untuk menghilangkan rintangan yang menahan manusia jauh dari Tuhan, yang memisahkan manavathwa dari madhavathwa. Tidak ada manusia; semuanya adalah Ilahi. Organisasi ini haruslah mengangkat manusia menjadi Ilahi.
(Sathya Sai Speaks, Vol VII, halaman 324)

P : Apakah Swami ingin agar kita berusaha untuk mendapaktan lebih banyak bhakta dan untuk membuka lebih banyak center?
J : Aku tidak tertarik atau gembira ketika distrik (daerah) ini atau itu menyatakan bahwa memiliki unit lebih banyak dalam organisasi ini dari pada yang lain. Aku tertarik dalam pekerjaan, dengan hati yang penuh dengan cinta kasih, dalam pelayanan tanpa pamrih. Ada unit yang keberadaannya hanyalah sebatas nama saja. Ada yang lain dimana fungsinya berlawanan dengan tujuan dan ideal awal kita! Daripada membiarkan hal ini terus berlanjut, adalah baik jika mereka ditutup (dihentikan), sesegera mungkin. Lebih baik memiliki 2 atau tiga yang berfungsi dengan baik dibandingkan seratus lainnya yang berfungsi dengan buruk atau sama sekali bahkan tidak berfungsi. 2 ons susu sapi lebih baik dari seketel penuh susu keledai.
(Sathya Sai Speaks, Vol VII, halaman 319)

(Sumber : Buku PETUNJUK BAGI PEKERJA AKTIF DALAM ORGANISASI SRI SATHYA SAI SEVA)

Category: Artikel, Organisasi  Comments off

SIFAT KITA YANG SESUNGGUHNYA

Sifat alamimu yang sesungguhnya adalah Prema (Cinta Kasih). Jika engkau kekurangan Cinta Kasih, engkau tidak akan mampu bertahan walau hanya untuk sesaat. Cinta adalah nafas dari kehidupanmu. Ketika keenam sifat buruk, yang mana dengannya engkau telah terikat sangat lama, menghilang, Cinta Kasih menjadi satu-satunya penghuni hatimu. Cinta Kasih harus menemukan suatu obyek, Yang Dicintai. Dia tidak bisa tinggal sendirian. Engkau kemudian akan mengarahkannya pada Yang Mempesona, Tuhan Yang Maha Manis, Yang merupakan Perwujudan dari Kemurnian, yang merupakan Perwujudan dari pelayanan, pengorbanan dan Yang Tidak Mementingkan Diri Sendiri dan yang mengambil tempat didalam altar Hatimu yang bersih. Kemudian, tidak akan ada tempat bagi keterikatan untuk tumbuh. Selangkah demi selangkah, Cinta kepada Tuhan ini akan menjadi lebih dalam, lebih murni, penuh dengan penyangkalan diri, sampai pada akhirnya, pikiran (thought) tidak akan dibutuhkan lagi, dan sang individual akan menyatu dengan Yang Universal.

(Sumber : Thought For The Day 21 Juli 2010, http://radiosai.org/pages/thought.asp)

Category: Quotation  Comments off

PERLUNYA PERATURAN DAN TATA TERTIB

P : Oleh karena Organisasi Sathya Sai Seva merupakan organisasi spiritual, apakah peraturan dan tata tertib dibutuhkan?
J : Sebuah organisasi spiritual sesungguhnya adalah melampaui semua peraturan dan tata tertib, alam dari Atma adalah tidak dapat dibatasi dengan suatu tata tertib. Dalam hal ini peraturan juga tidak berarti sama sekali atau menjadi berlebihan di Organisasi Sathya Sai Seva. Tapi setidaknya, untuk memuaskan hukum yang berlaku di daerah (negara) yang berhadapan dengan perkumpulan yang seperti ini, beberapa tata tertib harus dipakai. Sebagai contoh, siapa yang dapat menjadi anggota dari organisasi ini, dan apakah yang menjadi kualifikasinya (syaratnya)? Tentu saja, mereka harus menginginkan kemajuan spiritual. Mereka harus memiliki keyakinan yang penuh dengan Nama yang diemban oleh Organisasi (Sathya Sai) dan dalam menyebarkan Nama tersebut, dengan gaya atau cara yang sesuai dengan Pesan dan Keagungan-Nya. Selain itu, anggota harus mendapatkan pengakuan sebagai orang yang baik. Hanya itu persyaratan yang dibutuhkan, tidak ada yang lain yang harus diperhitungkan.
(Sathya Sai Speaks, Vol VI, halaman 29)

P : Apakah alasan dan manfaat dari peraturan dan tata tertib?
J : DALAM HAL MEMBANTU PARA SADHAKA UNTUK MENCAPAI HASIL INI (PERAIHAN TERHADAP PENGETAHUAN ATAU KEBIJAKSANAAN TENTANG ATMA SEBAGAI INTI ATAU HAKIKAT DARI SETIAP ORANG) MENJADI PERLU UNTUK MENGADAKAN SUATU PERATURAN YANG KERAS DAN PEMBATASAN. Seorang yang sakit tidak dapat ditaklukkan hanya dengan obat saja, diet yang ketat akan makan, minum, dan kebiasaan juga harus ditulis dalam resep dan dilaksanakan. Semuanya “sakit” oleh karena Bhavaroga, perjalanan yang terus menerus dari kematian menuju kelahiran. Pengulangan akan Nama (suci Tuhan) adalah obatnya; tapi, ini harus diikuti dengan cara atau peraturan hidup, pembatasan yang penuh dengan kedisiplinan dan hukum (peraturan). “Na sreyoniyamam vinaa” tidak ada kemajuan spiritual tanpa mengatur disiplin hidup. Sebuah lagu enak didengar oleh telinga hanya jika ada setelan yang konsisten dan waktu yang tepat – raga dan sistem tala. Jadi, bahkan untuk sadhana spiritualmu melalui unit Seva ini, beberapa peraturan disiplin diperlukan dan mereka (peraturan) harus secara ketat (tegas) diikuti. Engkau harus tidak menyimpang dari hal itu.
(Sanathana Sarathi, Januari 1978, halaman 258)

P : Mengapa terdapat begitu banyak pembatasan di dalam organisasi kita Swami?
J : Pembatasan, peraturan dan pengendalian diri merupakan jalan megah yang memimpin menuju tercapainya tujuan Kesadaran akan Diri (Tuhan). Mereka tidak hanya sekedar mengikatmu, untuk membatasi atau mengontrolmu. Setiap orang memiliki Atma. Tapi pikiran mengembara dan menjadi gelisah. Aturan ini haruslah dilekatkan, untuk mengontrol pikiran yang mengembara tersebut. Sebuah pohon muda yang kecil haruslah dijaga dari binatang dengan suatu pagar dari perusakan. Tapi ketika ia menjadi sebuah pohon, setiap binatang yang berusaha untuk menghancurkan atau memakannya, akan mendapatkan perlindungan dan tempat perlindungan dibawah pohon tersebut. Aturan adalah pagar penjaga untuk pikiran kita.
(Seva Dal, Februari 1981, halaman 8)

P : Tidakkah peraturan dan tata tertib menjadi suatu rintangan bagi kebebasan untuk berekspresi didalam sadhana saya?
J : Janganlah kalian resah (cerewet) dan melawan peraturan dan tata tertib yang telah organisasi tentukan bagimu, mereka dibuat adalah untuk kebaikan dirimu sendiri. tata tertib adalah esensi (inti) dari ciptaan. Lautan mematuhi batasannya; angin dan api juga menghormati batasan mereka masing-masing. Tubuh manusia haruslah dipelihara tetap berada pada kehangatan diatas 98.40 Fahrenheit agar terbebas dari demam. Jantung kita harus berdetak dalam jumlah tertentu per menitnya; bernapas harus dilakukan sebanyak 21,600 kali sehari. Lalu bagaimana bisa organisasi lepas dari peraturan dan tata tertib tertentu?.
(Sathya Sai Speaks, Vol X, halaman 45)

P : Bhagawan, tolong beri kami pencerahan agar mengetahui hubungan yang benar antara individu dengan masyarakat.
J : Individu dan masyarakat adalah saling terjalin dan tidak bisa memisahkan diri satu dengan yang lain. Harus ada penerangan bagi keduanya. Gelombang Ananda (kebahagiaan abadi atau terus-menerus) haruslah menggelora keluar dari individu dan memenuhi danau masyarakat, dan kemudian, mengalir menuju lautan Rahmat. Masyarakat hanyalah sebuah sebutan lain bagi suatu group individual; tapi ia tidak memiliki tubuh jasmani. Individu adalah cabang yang memberi makan dan mendukung sang badan yang bernama masyarakat.
Masyarakat membentuk individu, menyediakan tempat bagi perkembangannya dan menetapkan ideal yang harus dia tanamkan dalam dirinya sendiri. Ketika individu menjadi lebih kuat, lebih pintar (lebih intelejen), lebih berpandangan untuk melayani dan lebih efisien sebagai pekerja, masyarakat mendapat keuntungan; ketika masyarakat lebih sadar akan peranan dan kebutuhan untuk membersihkan peran itu dengan segenap kerendahan hati dan kebijaksanaan, individu akan mendapat keuntungan.

Sai telah memutuskan untuk merubah (mentransformasi) individu dan masyarakat dengan mempromosikan generasi yang penuh dengan pengertian ini (para bhakta sejati Tuhan, Sai), dengan tindakan dari seorang (bhakta) kepada orang yang lainnya. Oleh karena itu, formasi dari Organisasi Sai ini dan pendirian dari unit-unit ini dalam semua negara bagian, adalah untuk meningkatkan umat manusia menuju Ketuhanan.
(Sathya Sai Speaks, Vol X, halaman 11)

Category: Organisasi, Sai Teachings  Comments off

Pelajaran Ilahi Dari Tuhan Sendiri

Ada suatu cerita yang indah yang terjadi pada tahun 1985an. Pada suatu hari ketika semua orang pergi meninggalkan Asrama, untuk menuju sekolah dan institute. Svami datang ke Asrama yang sepenuhnya kosong, Svami menyuruh Shri Radhakrishnan Untuk pergi ke dapur asrama dan bertemu dengan kepala juru masak, Svami kemudian pergi menuju tempat dimana tempat sampah biasa diletakkan dan tempat sampah itu penuh berisi hingga meluap. Svami “tampak” tidak senang dengan kejadian ini, Svami tidak pernah suka melihat sesuatu terbuang-buang, terutama makanan, Svami tidak berkata apa-apa dan tidak ada siapapun yang juga tahu bahwa Svami dating ke asrama.

Beberapa hari kemudian, Svami berkata kepada kepala asrama bahwa Ia akan datang untuk makan malam di asrama. Semua orang sangat-sangat bahagia, tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tapi sekaligus membingungkan bahwa Svami datang walaupun sedang tidak ada kegiatan yang besar, tapi semua sangat senang Svami datang…

Setelah beberapa program budaya, Svami duduk untuk makan malam, moment yang paling indah yang terjadi malam itu adalah ketika Svami datang ke asrama, terpisah dari makanan, adalah Svami malam itu berbicara dengan setiap student (murid) dan bertanya kepada setiap student tentang makanan. Setelah itu Svami duduk kembali dia atas singgasana-Nya. Svami duduk dan berbicara dengan kepala asrama kira-kira selama 30 menit, kemudian menjadi 1 jam, Svami tidak pernah tinggal di asrama selama itu kecuali ketika Beliau sedang memberikan Discourse (Wacana),

Svami kemudian berkata bahwa Beliau tidak akan pergi “meninggalkan” asrama sebelum setiap student yang hadir disitu menghabiskan hidangan makan malamnya yang telah dihidangkan di piring mereka masing-masing. Tidak ada seorang pun yang boleh membuang-buang makanan mulai saat itu hingga seterusnya.

Svami meninggalkan asrama pada hari itu setelah 2 jam yang membahagiakan. Svami “menginginkan” agar semua orang agar mengetahui nilai dari makanan dan agar tidak membuang-buang makanan. Sejak saat itu, tidak ada yang membuang-buang makanan lagi…..

WE LOVE YOU SVAMI….

Sumber : http://www.saibaba.ws/experiences1/divine_lessons_from_our_divine_lord.htm

Category: Sai Teachings, Story  Comments off

APAKAH AKU BUKAN AYAHMU?

Ada salah satu student (murid) Svami di Puttaparthi yang pada waktu dia masih kecil, ayah kandungnya telah meninggal dunia. Svami pernah berkata pada ibu kandung murid ini bahwa Beliau akan mengurus anaknya dan kakaknya yang masih bekerja di Parthi. Beliau kemudian memanggil murid itu dan Berkata : “Mulai saat ini, Akulah ayahmu, jika kamu membutuhkan sesuatu, engkau harus memintanya pada-Ku jangan kau ganggu kakak atau ibumu”.

Libur sekolah telah tiba. Sebagian besar murid-murid pulang kerumah mereka masing-masing, dan student yang telah ditinggal mati oleh ayahnya inipun ingin pulang untuk menemui ibunya. Tapi dia tidak mempunyai uang untuk pulang. Ia menyatakan niatnya itu kepada kakaknya dan kakaknya juga pada saat itu sedang tidak memiliki uang untuk perjalanannya pulang. Murid itu sedih, tapi tidak mengungkapkan dan memberitahukannya kepada siapapun. Dia cenderung menyendiri di kamarnya. Pada masa-masa itu, Svami biasanya akan memanggil semuamurid-murid untuk duduk disebelah kanan pintu bhajan ketika bhajan dimulai. Svami akan memberikan Darshan dengan berjalan keluar-masuk ruang bhajan.

Pada suatu hari, Svami datang dan langsung duduk disinggasana Beliau dan memandangi kami, kami kemudian bergegas untuk duduk di depan. Beliau kemudian berdiri dan beranjak menuju pintu ruang interview. Dia kemudia memanggil student yang tidak bias pulang itu untuk mengikuti Beliau. Setelah kurang lebih 5 menit lamanya didalam, student itu keluar dengan bergelimang air mata. Kemudian setelah tiba di ruangan, dia menceritakan kejadian di dalam kepada murid-murid yang lain.

Svami memanggilnya untuk masuk kedalam ruang interview dan bertanya : “Aku telah memberitahumu bahwa jika engkau membutuhkan sesuatu, engkau harus memintanya kepada-Ku. Kenapa engkau pergi kepada kakakmu dan memberikannya masalah? Aku tahu kamu ingin pulang untuk menemui ibumu. Engkau seharusnya meminta pada-Ku. APAKAH AKU BUKAN AYAHMU? Kenapa kemudian engkau ragu untuk bertanya pada-Ku tentang apa yang engkau inginkan?”. Svami kemudian memberinya uang untuk perjalanannya pulang untuk menemui ibunya dan menyuruhnya untuk pergi dan menikmati liburannya dengan bahagia….

Source: http://saiks-reminiscences.blogspot.com/2008/10/am-i-not-your-father.html

Transformasi dalam diri

Banyak sekali individu-individu unggul yang lahir di distrik Kalappa. Salah satunya adalah seorang sage (rishi) terkenal bernama Veerabramendra Swamy, seorang tokoh yang berhasil meramalkan dengan baik peristiwa-peristiwa yang telah/bakal terjadi di zaman modern ini, padahal beliau hidup di zaman ribuan tahun yang lalu. Inilah yang dinamakan Kalajnana – Kala: waktu, dan Jnana: pengetahuan – jadi pengetahuan tentang masa depan. Sejak jaman dahulu, beliau telah memprediksikan kejadian-kejadian hari ini, dan kebetulan ia terlahir di tempat itu.
Kemudian terdapat pula seorang penyanyi terkenal bernama Annamacharya. Nyanyiannya sangat, sangat populer. Ia juga terlahir di sana. Selanjutnya, terdapat seorang rishi bernama Vemana yang juga asal Kalappa. Di samping itu, ada dua orang pujangga terkenal, Pothana dan Peddanna, yang juga lahir di situ. Jadi, untuk memperingati event-event tersebut, keseluruhan distrik itu sedang bergembira-ria dan dipenuhi oleh perayaan. Kebetulan saya sempat menyinggung hal ini kepada Swami, dan topik tersebut menjadi pemicu perbincangan sepanjang sore hari ini.
Beliau mengatakan: “Tahukah kamu, ada seorang pujangga bernama Vemana yang terlahir di sana?”
“Ya, Swami, saya tahu.”
Kemudian Swami mulai bercerita tentang Vemana. Pujangga besar ini dibesarkan oleh abang kandung dan kakak iparnya. Kedua orang-tuanya telah meninggal, dan entah bagaimana, karena nasibnya, ia terperosok dalam kebiasaan yang jelek dan kurang terpuji. Ia menjadi seseorang yang suka main perempuan. Dan terdapatlah seorang wanita yang meminta Vemana agar memberinya kalung yang biasa dikenakan oleh kakak iparnya; kalung itu sangat mahal dan berharga. Wanita tadi bersikeras agar Vemana mengambilkan kalung itu dan diberikan kepadanya. Jadi, Vemana-pun terpaksa mencuri kalung itu dan diberikannya kepada si wanita itu.
Rupanya kakak iparnya mengetahui hal ini dan ia dapat memahaminya; maka dipanggilnyalah Vemana. Ia berkata, “Look here! Seandainya saja kau memintanya dari-ku, maka saya akan memberikannya kepadamu. Mengapa kau harus mencurinya? Tindakanmu itu tidak baik.” Lebih lanjut ia menambahkan, “Lihatlah Vemana! Saya telah memakai kalung ini secara rutin setiap hari, namun saya sama sekali tidak merasakan adanya hal-hal yang istimewa dengan kalung ini. Jadi, mengapa teman wanitamu begitu ingin memilikinya? Bagaimana mungkin ia bisa merasa sangat happy dengan kalung ini saja? Saya sungguh tak percaya. Sebenarnya dia hanya ingin merampas kalungku saja.” Itulah yang dikatakan oleh iparnya. Vemana merasa sangat menyesal. Transformasi-pun mulai terjadi di dalam dirinya.
Saudara laki-laki (abang) Vemana mempunyai satu orang puteri saja dan Vemana sangat menyayanginya. Ia memperlakukan keponakannya itu seolah-olah seperti puterinya sendiri; bahkan lebih daripada itu. Namun, suatu hari, karena suatu sebab, anak itu tiba-tiba meninggal. Lalu apa yang dilakukan Vemana? Ia memegang foto anak itu dan memeluknya erat-erat sembari menangis terus-menerus. Kakak-ipar (ibu sang anak) ingin memberi pelajaran kepada Vemana. Maka, diambilnya foto itu dan dirobek-robeknya serta dibakar! Vemana semakin bertambah sedih dan menangis terus.
“Mengapa kau lakukan itu? Aku sangat menyukai foto anak yang sangat ku cintai itu.”
Sang kakak-ipar menerangkan, “Begini ya – dari tadi kau berkhayal bahwa dia ada di dalam foto itu. Itulah sebabnya ia seolah-olah masih hidup bagimu. Tapi lihatlah, badan jasadnya sudah tidak ada di sini lagi. Daripada memegang foto ini, sebagai gantinya, lebih baik bila kau memegang foto Tuhan dan menangisi-Nya, janganlah menangisi anak yang sudah tiada.”
Seketika itu, semangat pelepasan (renunciation) dan ketidak-melekatan (sense of detachment) mulai bersemi di dalam diri Vemana. Di kemudian hari ia meninggalkan kehidupan rumah-tangga, dan sejak hari itu, ia menjalani kehidupan sebagai seorang yogi atau kehidupan suci (saint). Di kemudian hari, ia menulis berbagai karangan syair/sajak. Hampir semua penduduk Andhra Pradesh pasti mengetahui tentang syair-syairnya dengan baik. Bhagawan menjelaskan keseluruhan episode ini kepada kami.

Category: Artikel  Tags:  Comments off

Kalau saja engkau datang hanya untuk-Ku

Sekarang kita beranjak ke event pada tanggal 25 Januari 2003 (sebagaimana anda ketahui, kita akan membahasnya dengan tanggal mundur). Ada seorang pria yang datang mengunjungi Swami, kelihatannya seperti seorang chairman (ketua) atau presiden dari salah satu klub/organisasi internasional. Swami membiarkannya duduk dan menunggu, seolah-olah hal yang biasa bagi-Nya (tertawa).

Saya berkata, “Swami, saya mendapatkan info bahwa ada seorang international chairman (atau presiden) yang hadir di sini.”

Bhagawan berkata, “Lalu kenapa? Setiap orang harus menunggu Aku.”

“Ok, Swami. Apakah itu berarti bahwa tidak ada harapan untuk bisa bertemu dengan-Mu secara langsung? Tak ada kesempatan untuk itu?”

Baba berkata, “Orang-orang mendatangi-Ku dengan beragam alasan – entah untuk urusan prospek bisnisnya, urusan keluarganya, semuanya ingin agar keinginannya terkabulkan. Tapi bagi mereka yang secara khusus datang hanya untuk-Ku, maka Aku pasti akan langsung menemuinya setibanya mereka di sini! Kalau saja mereka datang hanya untuk-Ku, maka Aku pasti akan memberinya interview. Tapi kenyataannya, tidak banyak orang yang datang dengan tujuan seperti itu. Kebanyakan yang datang ke sini mendambakan agar keinginan dan kenyamanan pribadi mereka dipenuhi.” Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan.

Category: Artikel  Comments off

Ketenangan Dan Kejenakaan Yang Membahagiakan

Bhagawan menyinggung sebuah cerita yang menarik tentang seorang pujangga bernama Thenali Ramakrishna. Beliau adalah salah seorang pujangga yang mengabdi kepada raja Krishnadevaraya; dan cukup terkenal dengan humor serta kejenakaannya.
Swami bercerita tentang dua episode yang berhubungan dengan kehidupan Thenali Ramakrishna. Rupanya terdapat beberapa orang pundit dan cendekiawan yang merasa cemburu atas kedekatan Thenali Ramakrishna dengan Raja. Rupanya orang-orang tipe pecemburu seperti ini telah eksis sejak jaman dahulu. Mereka hadir di sini bukan untuk pertama kalinya. (tertawa) Mereka telah ada sejak jaman antah-berantah. Yes. Jadi, di dalam sidang dewan kerajaan, para cendekiawan itu menantang Thenali Ramakrishna.
“Oh, Sang Raja, biarkanlah pujangga ini memberikan penjelasan mengapa tidak terdapat bulu/rambut di telapak tangan. Bila rambut/bulu tumbuh dimana-mana, lalu mengapa ia tidak tumbuh di telapak tangan. Mengapa? Biarkanlah ia menjawab tantangan kami ini.”
Sang pujangga, Thenali Ramakrishna, berdiri dan berkata, “Yang Mulia, Aku akan memberikan penjelasan. Di telapak tangan-ku ini tidak ada rambut/bulunya, hal ini disebabkan karena aku senantiasa menggunakannya untuk menerima hadiah-hadiah dari-mu, wahai Paduka. Oleh sebab itu, tidak ada waktu bagi si bulu/rambut untuk tumbuh.” (tertawa).
Sang raja juga ikut tertawa dan berkata, “Oh ho, I see. Tapi mengapa telapak tangan orang lain juga tidak berbulu? Mengapa begitu?”
Kemudian Thenali Ramakrishna berkata, “Oleh karena engkau selalu memberikan hadiah, maka orang lain menjadi sangat cemburu. Akibatnya, mereka terus-menerus menggosok-gosokan tangannya sehingga rambut/bulu itu tidak bisa tumbuh.” (tertawa) Begitulah sense of humour Thenali Ramakrishna.
Selanjutnya Bhagawan menyinggung episode lain dari kehidupan Thenali Ramakrishna. Pernah suatu ketika, sang raja memberikan hadiah permata, batu-batu mulia dan emas kepada Thenali Ramakrishna. Dalam perjalanannya pulang ke rumah, beberapa pencuri melihat bahwa Thenali Ramakrishna sedang membawa barang-barang berharga itu, oleh karenanya mereka ingin mencurinya. Para pencuri pergi ke rumahnya di malam hari. Ketika mereka akan membawa kabur perhiasan itu, sang pujangga ini terbangun. Melihat tuan rumah terbangun, para pencuri itu melarikan diri keluar dari rumah dan menyembunyikan diri di belakang dinding sumur. Sebagai seorang yang cerdik, Thenali Ramakrishna keluar dari rumah.
Anda tentunya pernah lihat sumur-sumur di India bukan? Ia terdiri atas sebuah ember kecil, tali dan kerekan. Dengan alat-alat inilah orang-orang menimba air dari dalam sumur. Jadi, pergilah Thenali Ramakrishna ke tepi sumur dan menimba sedikit air. Ia berkumur-kumur dan setelah itu disemburkannya air di mulutnya ke arah para pencuri yang sedang bersembunyi itu! Hmm, Si Thenali Ramakrishna ini benar-benar cerdik ya? (tertawa). Selanjutnya Thenali Ramakrishna mengambil kain dan mengisinya dengan batu-batuan, kemudian diikat dan dilemparkan ke dalam sumur.
Ia berkata kepada isterinya, “Begini, perhiasan ini tidak boleh disimpan di dalam rumah kita, sebab para pencuri setiap saat bisa masuk ke sini. Jadi, sebagai langkah pengamanan, saya telah melemparkannya ke dalam sumur.”
Sebenarnya ia sama sekali tidak melemparkan perhiasan itu ke dalam sumur. Sebagai gantinya, yang dilemparkannya adalah bongkahan batu-batuan. Namun para pencuri sama sekali tidak tahu hal ini. Mereka mengira bahwa perhiasan itu sekarang sudah ada di dalam sumur, dan mereka sangat ingin memperolehnya. Akibatnya, sepanjang malam itu mereka harus sibuk bekerja mengosongkan sumur itu dengan cara menimba airnya satu per satu. (tertawa)
Keesokan paginya, Thenali Ramakrishna bangun dan berkata, “Terima-kasih Bapak-bapak. Ladang kami memang telah lama tidak mendapatkan air. Mereka perlu disirami, dan sekarang anda telah melakukannya secara suka-rela tanpa pamrih. Aku sangat berterima-kasih kepada kalian.” (tertawa) Itulah yang dikatakan oleh Bhagawan sore hari ini.

Category: Artikel  Comments off
Tinkerbell Personal Checks |Garden Planters | Jewellery For Women | Best Dog Foods | Budget Wedding Gowns | Shop For Jewellery | Vintage Jewellery| Diamante Jewellery | Car Finance Credit | DoorStep Loans